Mengenal Baju Adat Raja Solo, Busana yang Dikenakan Jokowi di HUT RI ke-78

Mengenal Baju Adat Raja Solo

Baju adat raja Solo menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat belakangan ini. Hal ini terjadi seiring dengan pemakaian baju adat khas Solo oleh Presiden Joko Widodo dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 pada 17 Agustus 2023 lalu. Tampilan presiden dengan busana tradisional yang sarat makna ini rupanya menarik perhatian banyak orang.

Baju adat raja Solo sendiri merupakan pakaian adat khas Kesultanan Surakarta Hadiningrat di Jawa Tengah yang memiliki sejarah panjang. Busana ini juga diyakini mengandung filosofi mendalam di balik setiap ornamen dan detailnya. Meski demikian, tidak banyak yang mengetahui asal-usul dan makna di balik busana kerajaan ini.

Read More

Tulisan ini akan membahas lebih jauh tentang baju adat raja Solo agar pembaca dapat memahami nilai historis dan budaya di balik busana mewah nan elegan ini. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Asal-Usul Baju Adat Raja Solo

Baju adat raja Solo yang kita kenal saat ini berakar dari sejarah panjang Kerajaan Mataram dan perpecahan serta perjanjian-perjanjian politik yang terjadi pada abad ke-18.

Setelah Keraton Kartasura dihancurkan dalam pemberontakan 1742, Raja Pakubuwana II mendirikan keraton baru di Desa Sala yang kemudian dikenal sebagai Surakarta. Perjanjian Giyanti 1755 memecah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Perjanjian Salatiga 1757 kemudian mendirikan Kadipaten Mangkunegaran di wilayah Surakarta. Sejak itu, Surakarta memiliki dua pusat kekuasaan yang saling menghormati, yaitu Sunan dari Kasunanan dan Adipati dari Mangkunegaran.

Kedua penguasa ini bekerja sama dalam berbagai hal, termasuk dalam hal busana dan pakaian adat. Baju adat raja Solo yang khas dengan warna dan motif batik serta perhiasan khas mencerminkan warisan budaya dari dua kerajaan ini.

Meski terinspirasi tradisi Jawa, baju adat raja Solo juga dipengaruhi gaya Eropa karena hubungan politik dan perdagangan pada masa kolonial Belanda.

Ciri-Ciri dan Contoh Baju Adat Raja Solo

Makna Baju Adat Raja Solo
Makna Baju Adat Raja Solo (Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden)

Baju adat raja Solo memiliki ciri-ciri yang khas dan berbeda dengan baju adat Jawa lainnya. Baju adat ini terdiri dari beberapa unsur dan aksesori yang memiliki makna tertentu. Berikut adalah beberapa ciri-ciri dan contoh baju adat raja Solo:

Kemeja Putih Berdasi Kupu-kupu

Kemeja putih berdasi kupu-kupu merupakan bagian penting dari busana adat raja Solo. Kemeja putih melambangkan kesucian dan kejujuran, sementara dasi kupu-kupu melambangkan keanggunan dan kewibawaan.

Penggabungan kedua elemen ini menunjukkan pengaruh gaya Eropa dalam evolusi busana keraton Surakarta. Contoh terkenal penggunaan kemeja putih berdasi kupu-kupu adalah Presiden Jokowi saat mengenakan pakaian adat Ageman Songkok Singkepan Ageng dalam peringatan HUT RI ke-78.

Kemeja putih berdasi kupu-kupu ini menjadi identitas busana kebesaran khas Solo yang merepresentasikan nilai-nilai luhur dan modernitas sekaligus.

Jas Beludru Hitam

Jas beludru hitam merupakan elemen penting lain dalam busana adat kebesaran raja Solo. Jas hitam yang terbuat dari bahan beludru melambangkan kekuatan, ketegasan, dan keberanian. Ini menunjukkan pengaruh gaya Eropa dalam busana keraton Surakarta.

Contoh terkenal penggunaan jas beludru hitam adalah Presiden Jokowi saat mengenakan pakaian adat Ageman Songkok Singkepan Ageng dalam peringatan HUT RI ke-78. Jas beludru hitam ini menjadi identitas busana kebesaran khas Solo yang mencerminkan semangat kepemimpinan dan keberanian.

Jumputan Merah

Jumputan merah adalah elemen unik dalam busana adat raja Solo. Jumputan merah berupa kain batik yang dibungkus di sekitar jas hitam. Warna merah yang mencolok melambangkan kebesaran, kemegahan, dan kesejahteraan.

Jumputan merah menjadi identitas khas busana keraton Surakarta. Warna merah dipercaya memiliki kekuatan magis dan spiritual dalam budaya Jawa. Oleh karena itu, jumputan merah menjadi simbol status dan kekuasaan raja-raja Solo.

Jumputan merah biasanya hanya dipakai dalam acara-acara penting oleh raja dan keluarga keraton. Penggunaan jumputan merah oleh Presiden Jokowi dalam busana adat Ageman menunjukkan rasa hormat dan pengakuan terhadap warisan budaya keraton Surakarta.

Celana Panjang Hitam

Celana panjang hitam adalah bagian penting dari busana adat raja Solo yang menunjukkan pengaruh gaya Eropa. Celana panjang hitam melambangkan keseriusan, kedisiplinan, dan ketertiban.

Celana panjang hitam menjadi identitas busana keraton Surakarta yang mencerminkan sikap dan perilaku bangsawan Jawa. Celana panjang hitam hanya dipakai dalam acara-acara resmi istana. Penggunaan celana panjang hitam oleh raja dan pembesar keraton menegaskan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam mengemban tugas kenegaraan.

Batik Parang Barong

Batik parang barong adalah elemen paling sakral dalam busana adat raja Solo. Batik parang barong berupa kain batik bermotif khas yang dililitkan di pinggang. Motif parang barong merupakan salah satu motif batik tertua dan paling keramat di Jawa.

Motif parang barong melambangkan keagungan, kehormatan dan kesaktian. Karena itu, hanya raja dan keluarga keraton Surakarta yang diizinkan mengenakannya dalam upacara-upacara penting. Batik parang barong menjadi simbol status dan kekuasaan tertinggi raja-raja Solo.

Sepatu pantofel

Sepatu pantofel merupakan bagian dari busana adat raja Solo yang dipengaruhi gaya Eropa. Sepatu pantofel melambangkan semangat kemodernan, kelincahan, dan keterampilan.

Sepatu pantofel menjadi bagian penting dari busana keraton Surakarta untuk menunjukkan sikap terbuka dan adaptif terhadap perkembangan jaman. Raja dan pembesar keraton memakai sepatu pantofel hitam yang mengkilap untuk acara-acara resmi.

Keris

Keris merupakan salah satu aksesori paling penting dalam busana adat raja Solo. Sebagai senjata tradisional Jawa, keris memiliki nilai magis dan spiritual yang tinggi. Keris melambangkan kejayaan, keadilan dan kewaspadaan.

Dalam busana adat raja Solo, keris ditempatkan di bagian depan dan belakang pinggang. Penempatan ini melambangkan perlindungan dari segala arah bagi sang raja. Keris juga menjadi simbol kekuasaan tertinggi raja Jawa atas wilayahnya.

Penggunaan keris dalam busana adat oleh Presiden Jokowi dan pemimpin nasional lainnya menunjukkan penghormatan pada warisan budaya Nusantara, khususnya Jawa. Keris tetap relevan sebagai simbol kepemimpinan Indonesia modern yang tetap terhubung dengan akar budayanya.

Topi Mahkota Keraton (Songkok)

Songkok atau topi mahkota keraton adalah identitas paling ikonik busana adat raja Solo. Songkok berbentuk segi empat dengan ujung lancip di depan dan belakang melambangkan kedaulatan, kewenangan dan kepemimpinan.

Songkok keraton biasanya dihiasi dengan sulaman benang emas atau polos tanpa hiasan. Tingkat kerumitan hiasan songkok melambangkan tingkat kebesaran dan status pemakainya. Songkok emas dipakai raja, songkok benang perak untuk sentana dalem, dan songkok polos untuk prajurit.

Tips Memakai Baju Adat Raja Solo dengan Baik

Baju adat raja Solo bukan sekadar busana, melainkan pakaian kebesaran dengan tata cara dan etika tersendiri. Beberapa tips penting dalam mengenakan busana adat Solo:

  • Sesuaikan jenis baju adat dengan acara yang dihadiri. Untuk acara resmi, pilih jenis tertinggi seperti Ageman Songkok Singkepan Ageng. Untuk acara santai, cukup pakai jenis lebih sederhana.
  • Perhatikan ukuran dan warna agar sesuai postur dan kulit. Pilih ukuran pas dan warna yang serasi agar tampil maksimal.
  • Lengkapi semua aksesori dan detail dengan tepat. Jangan sampai ada yang terlupa atau salah kombinasi. Perhatikan harmoni warna dan motif.

Baju adat raja Solo merupakan warisan budaya luhur nan unik dari tanah Jawa. Lahir dari Kesunanan Surakarta pada abad ke-18, busana kebesaran ini sarat makna filosofis dan sejarah. Setiap elemen baju adat Solo melambangkan nilai-nilai mulia dan mencerminkan perpaduan tradisi Jawa kuno dengan pengaruh Eropa.

Baju adat raja Solo hadir dalam beragam tingkatan, dari yang tertinggi hingga paling sederhana. Agar dapat mengenakannya dengan anggun, diperlukan pemahaman tentang tata cara dan etika yang tepat. Sesuaikan jenis baju adat dengan acara, perhatikan ukuran dan warna, serta lengkapi semua aksesori dengan baik.

Demikian sedikit ulasan mengenai baju adat raja Solo yang unik dan penuh pesona. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang kekayaan budaya Nusantara kita.

 

Related posts